Sang Pencari Sinar Mu #TulisNusantara

~Untuk Para Pejuang Ilmu di Negeri ini..

Sang Pencari Sinar Mu

Berkelana dalam hidup, membisu…namun tak terdiam

Saat semu harap kian redup, ku berjalan menuju  naungan

Setitik cahaya di tangan ini tak mampu untuk menggapainya

Melangkah menuju..namun tak kunjung untuk berpijak

Sinar Mu..

Saat dunia ini tak menyapaku,

Rintihan tangis pun tak membuatmu melihatku

Tiang-tiang hidup yang kau ciptakan,membuat nyata anganku

Dan kukatakan padamu, kumulai mencarimu..

SinarMu..

Bisikku..dimanakah pijakan itu?

Pijakan mereka yang buta akan dunia ini

Pijakan agar ku terbangkan kembali cahaya di duniamu

Pijakan saat usia mulai tenggelam dalam bui

SinarMu..

Cahayamu tampak..merayu hingga menusuk tulang

Bagai malam mu yang fana..hingga fajar hadirnya

Mengikis tatapan kias dunia yang memandang

Kuraih sinar itu, untuk kududukan tinggi disana

Created by :Rika Puri Berliyani

by:@rikapuri1990

  • Writing Competition ini merupakan salah satu rangkaian acara dari http://nulisbuku.com/kompetisi-menulis-tulis-nusantara-2012

The Power of Muslimah

HIJAB IS THE POWER IN MY LIFE

Terinspirasi dari sebuah kisah hidup~Anonymous Life (Anif)

      Sejak usianya yang menempati kelas satu Sekolah Menengah Pertama Negeri di Bandung ia mulai menyatakan dirinya untuk mengenakan hijab. Walaupun pada awalnya ia menyatakan bahwa dirinya memakai hijab karena melihat kakak sulungnya yang memiliki kulit putih telah mengenakan kerudung saat di bangku Sekolah Menengah Pertama pula. Tidak terbersit dipikarannya bahwa kakaknya yang memiliki kulit yang putih dikarenakan faktor genetik yang dimilikinya sejak lahir (haha..pemikiran anak-anak pada saat itu yang terobsesi memiliki kulit putih). Maklumlah Anif adalah seorang anak bungsu dengan kulit yang gelap, hingga orang-orang menjulukinya “Si Budak Hideung (dalam bahasa sunda yang artinya Si Anak Hitam). Anif bukanlah bagian dari golongan anak yang memiliki kondisi ekonomi yang tercukupi. Ibunya yang seorang penjahit hanya terbatas pada jasa untuk membuatkan bahan jahitan yang diberikan pelanggan. Untuk anak-anaknya  terkadang ibunya Anif hanya mampu membeli dan membuatkannya sekali dalam setahun, yakni saat hari lebaran tiba.

~Percakapan antara Ibunya dan pelanggan jahitan yang selalu teringat Anif pada suatu hari,

Pelanggan : Assalamualaikum…bu Anif (teriaknya panggilan ibu yang memiliki anak bernama Anif , hingga namanya begitu tersohor)

Ibu Anif: Walaikumsalam..eeh..ibu..(tetap terlihat dekat dengan mesin jahitnya dan kalungan meteran baju pada lehernya)

Pelanggan :  Ini saya punya bahan kain baru loh toh bu..(tiba-tiba menghampiri dan masuk rumah Anif yang terlihat sangat penuh walau dengan sebuah mesin jahit tua)

tolong dibuatkan ya bu, gimana ibu aja modelnya..percayalah sama ibu..pokonya yang bisa klop sama badan anak saya yang big..kerudungnya di neci (bagian trik dalam menjahit) plus dikasih renda di bagian bawah kerudungnya..itu loh kayak jahitan kerudung anaknya Bu Nilam (langganan jahit ibu Anif)..yaaa bu??.. saya lihat kemaren dipengajian kerudungnya bagus loh..hehe terus bla..bla..(permintaan seorang pelanggan yang tak mau kalah ketinggalan model)

Ibu anif: siaplah bu..kapan mau dipake bajunya? Tawar menawar waktu dan harga sepakat. Kemudian jahitan mulai diselesaikan bu Anif.

Tak lama berselang ibu Anif berkata “ nak, maapin ibu ya”. Kata yang selalu teringat oleh anif saat berakhirnya percakapan kala kain jahitan itu mulai dikerjakan. Anif hanya menganggukkan kepala dengan melontarkan senyuman pada ibunya itu.

      Kadang terpikirkan dan yang mengiris hati ibu Anif yaitu ingin membuatkan baju yang sama, ataupun sekedar membuatkan kerudung baru pada anak-anaknya. Pikirannya langsung tertuju pada anak sulungnya yang telah menginjak Sekolah Menengah Atas, yang hanya memiliki satu kerudung berwarna “Ungu”, lusuh dengan warnanya yang memudar. Karena seringnya kerudung tersebut dipakai, hingga kaka sulung Anif  selalu dijadikan suatu bahan celaan bagi teman-temannya dan menjulukinya “Si Jubah Ungu”. Sudah pasti baju favorit yang sering dikenakan kaka sulung Anif merupakan hasil jahitan buatan ibunya yang satu stel dengan kerudung dan berwarna ungu pula. Dengan santainya, kata balasan yang selalu terlontar dari kaka sulungnya itu, “Ibumu bisa buat baju buat kamu?”.

      Pada awal masa sekolah Menengah Pertama. Anif terlihat tampak berbeda dengan teman-teman lainnya di sekolah tersebut karena masih menggunakan baju yang bercorak putih-merah. Yang selalu menjadi bahan pertanyaan baginya,” loh ko, masih pake baju SD?? belum naik kelas ya?” Tidak terlepas dari pertanyaan guru dalam kelas dan diikuti celotehan dan tawa teman-teman kelasnya, hingga ia merupakan satu-satunya murid yang hanya duduk sendiri tanpa teman disamping bangkunya. Berulang kali ia datang ke ruangan kesiswaan untuk menanyakan seragam pesanan, yang merupakan paket administrasi saat pembayaran awal masuk sekolah tersebut.

Anif : “ bu apa bajunya sudah ada?”

Ibu guru: “belum Anif, seragam yang panjang belum datang..karena seragam yang panjang pesanannya sedikit sekali jadi didahulukan seragam yang pendek dulu”..lalu tak lama ibu guru bertanya, kenapa ga pake yang pendek saja? malu lo pake yang merah terus?

Anif : “enggak bu, anif suka seragam yang panjang? (Ehtah apa yang dipikirkan Anif saat itu, kata-katanya terlontar begitu saja, dengan sedikit perasaan kecewa ia mulai masuk kelas dan mengikuti palajaran sekolah). “Bismillah..” kata yang selalu ia ucapkan saat memulai pembelajaran di dalam kelas sambil menghelakan napasnya.

Iginnya anif mengatakan pada ibunya untuk membuatkan seragam panjang agar sama dengan temannya yang mempunyai salinan seragam lainnya. Tapi tidak, kala terbayang wajah ibunya yang lelah ketika menjahit pesanan dan berjuang mencari uang tambahan untuk biaya sekolah dan makan. Pikirnya untuk mendapatkan seragam baru saja sudah cukup. “Alhamdulillah..punya baju baru”, ucapnya dalam hati dengan ikhlas.

Ia mulai menyadari perjuangannya untuk tetap mengenakan hijab dengan cobaan hidup yang ia terima di tengah kondisi yang kekurangan, hingga menambah keyakinannya untuk dirinya mengenakan hijab. “Ya Rahman, Ya Rahim..Bismillah..mulai sekarang Anif ingin mengenakan HijabMu…sampai Anif ada di surgaMu nanti ya Allah..Amin”.

      Hingga massa pergantian kelas, dari awal kesungguhan Anif menambahkan prestasi yang ia peroleh di kelasnya, mempuyai teman disamping bangkunya menjadi pelengkap kenyamanan dikelasnya. Saat itu, julukan baru yang ia perolah yaitu “Si ManIS”(Merah, Hitam, dan Smart). Hingga Anif kadang berpikir “ko keluarga saya jadi bahan julukan ya?”(terserah anda untuk tertawa).

      Bagi Anif hijab bukan saja tuntutan seorang muslimah, tapi merupakan power untuk menambah keyakinan seorang muslimah yang diberikan Allah SWT, dengan kasih-sayangNya bagi siapa saja yang mesyukuri pemberianNya. Dan menjadikan rahasia bagi kakak sulung Anif dibalik kerudung “Ungu” satu-satunya yang ia kenakan itu, yakni

Kerudung Ungu yang mengantarkanku menuju keberhasillan saat ini atau esok hari. Tak perlu mengeluh akan situasi yang Allah berikan pada keluarga kami, tapi yang penting Allah selalu bersama kami, jika umatnya yang selalu patuh akan perintahnya untuk menjaga Hijab bagi seorang muslimah”.

      Besarnya kekuasaan kasih-sayang dan kekeuasaan yang Allah berikan menjadikan suatu kekuatan bagi umatnya untuk bangkit. Dari setitik rahasiaNya yang merupakan kebesaranNya namun kadang membuat tak terlihat mata bahkan menutupi ketulusan hati umatnya kala berpaling dariNya. Na’udzubillahi min dzalik..tetaplah bersama kasih- sayangNya dengan menjalankan segala perintah dan laranganNya. Percayalah, sungguh Kasih sayang Allah itu tak ada batasnya. Karna Ialah “Ar rahman-Ar rahim”.

      Banyak hikmah dan goresan tinta yang tak terhingga untuk menyebut kebesaranNya, semua itu ada dalam lubuk hati para teman-teman pembaca muslimah sekalian. Maka serulah,namaNya dengan tetap istikomah di jalannya. Alhamdulilah hirobbil alamin..Segala puji hanya bagi Allah SWT.

by:@rikapuri1990

jaitanPhoto description of the story~

  • Writing Competition ini merupakan salah satu rangkaian acara dari Indonesia Muslimah Fest bekerjasama dengan FLP Bandung. Ikuti lomba & Audisi lainnya seperti Lomba Menyanyi, Model Muslimah, Rancang Hijab dengan Hadiah Utama Tour Eropa, Asia dan Umroh juga Hadiah Ratusan Juta lainnya. Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui:web : www.festivalmuslimah.comTwitter : @MuslimahFest Fb : www.facebook.com/FestivalMuslimah

~MAGNET OF HIJAB

magnet of hijab     Kembali mengingat massa tempo dulu saat sebutan ‘hijab’ yang lebih dikenal di massa sekarang bermetamorfosis dari sebutan ‘kerudung’ atupun ‘jilbab’. Saat itu masyarakat umum Indonesia masih belum mengenalnya, sehingga mereka yang mengenakan kerudung disebut mengenakan jilbab. Beberapa kalangan dari mereka yang menengenakan hijab pun masih terbatas, hingga tak sedikit hijab selalu dianggap, kaku, kuno dan cenderung fanatik. Banyak dari mereka memandang sebelah mata, bahkan terhadap siswi dilingkungan sekolah dan beberapa profesi pun memberikan larangan mengenakan hijab di zamannya saat itu.

Saat ini perkembangan hijab telah menjamah hingga skala dunia. Kehadiran rancangan desainer Indonesia mendapatkan penghargaan Terfavorit dalam ajang International Fair of The Muslim World Le Bourget di Paris (www.bisnisjabar.com), menjadi ‘daya tarik’ kuat terhadap perkembangan hijab di Indonesia yang semakin pesat. Perkembangan pesat hijab tersebut, mendukung lahirnnya para desainer kreatif. Hingga hijab semakin marak di masyarakat modern. Pemakai hijab tidak hanya dari kalangan agamis atau menengah, tapi sudah mencapai level pergaulan modern, seperti para artis, politisi, dan wanita karier (WaspadaOneline, http://www.waspada.co.id). Selain itu munculnya komunitas pemakai hijab dengan nama Hijabers Community (HC), mematahkan opini dunia fashion hijab yang kaku dan kuno. Kini, banyak muslimah yang percaya diri  dan tidak ragu untuk tampil penuh gaya dengan berhijab, mereka yang bekerja sebagai professional, baik yang berkarir maupun pelaku bisnis, semua seperti berlomba untuk tampil se-trendi mungkin dengan hijabnya.

Walau terhitung lambat, perkembangan berbusana muslimah kini mendapatkan tempat di dunia fashion Indonesia dengan mulai hadirnya pelaku fashion yang mendesain dan memproduksi baju khusus kaum muslimah yang selain mengikuti syariat agama tapi juga mengikuti mode. Diikuti kemudian lahirnya brand-brand modern, konsep padu padan, berani dengan warna, dan kreatif, sehingga banyak bermunculan produk busana muslimah dengan desain yang modern dan punya nilai estetika yang baik, sehingga mulai digemari dan bisa menjadi ‘daya tarik’ kaum muslimah untuk berbusana sesuai dengan identitasnya sebagai seorang muslimah.

Perjalanan itu terbayar sudah,  setelah  melihat kondisi  perkembangan hijab yang pesat hingga menjadi lahan dunia modeling yang sangat menjanjikan. Dengan berbagai tampilan yang menuntut sesuai dengan profesi dan aktivitas harian yang dilakukan oleh seorang muslimah. Hingga kini fashion hijab meranah hingga berbagai kalangan profesi wanita.

Namun seiring perjalanan itu,  muncul pertanyaan “apakah kreativitas atau trend yang muncul sesuai dengan syariat islam seorang muslim dalam berhijab?”

Perubahan pandangan muslimah akan hijab yang tidak modis,karena memilik tampilan yang kaku, dimana ditimbulkan oleh paradigma (olah pandangan/kerangka pemikiran kehidupan, lingkungan, metode, alur dst) yang terbatas harus menutupi aurat seeorang muslimah sehingga paradigma yang dihasilkan pun hanya memunculkan batasan tampilan hijab yang terpaku. Untuk memunculkan batasan yang sesuai dengan syariat islam yaitu dengan menambah skala paradigma yang luas dan tidak terpaku pemikiran yang sempit. Paradigma yang luas tersebut akan menjadikan rasa kepercayan diri baru muslimah mengenakan hijab dalam kehidupannya. Kreatifitas seorang muslim yang tidak kaku namun tetap mengacu pada syariat yang ditentukan akan menimbulkan suatu paradigma hijab yang lebih luas hingga menghasilkan suatu karya.

Mengambil kutipan sebuah buku desainer Dian Pelangi, dalam bukunya Hijab Street Style, tentang gaya berhijab sehari-hari para muslimah di kota-kota besar di Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Thailand yang memperlihatkan style-style inspiratif dari ± 600 muslimah yang berasal dari berbagai kalangan ini. Suatu peluang yang memotivasi para perempuan berhijab untuk menunjukkan eksistensinya di bidang masing-masing.

Melihat peluang untuk menyisipkan hal-hal yang baik hingga menjadi suatu bagian yang disukai seseorang dan mampu menjadi ‘daya tarik’ seorang muslimah untuk mempelajari hijab lebih dalam, khususnya syriat islam aan hijab.

 “Barang siapa yang memberikan contoh yang baik dalam Islam maka baginya pahala atas perbuatan baiknya dan pahala orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat. Yang demikian itu tidak menghalangi pahala orang-orang yang mengikutinya sedikitpun”.

“Dan barang siapa yang memberikan contoh yang buruk didalam Islam maka baginya dosa atas perbuatannya dan dosa orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat. Yang demikian itu tanpa mengurangi sedikitpun dosa orang-orang yang mengikutinya” (HR Muslim)”.
“Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang”.[al-Ahzab:59]

Imam Muslim menuturkan sebuah riwayat, bahwasanya Rasulullah saw bersabda;
“Ada dua golongan manusia yang menjadi penghuni neraka, yang sebelumnya aku tidak pernah melihatnya; yakni, sekelompok orang yang memiliki cambuk seperti ekor sapi yang digunakan untuk menyakiti umat manusia; dan wanita yang membuka auratnya dan berpakaian tipis merangsang berlenggak-lenggok dan berlagak, kepalanya digelung seperti punuk onta. Mereka tidak akan dapat masuk surga dan mencium baunya. Padahal, bau surga dapat tercium dari jarak sekian-sekian.”[HR. Imam Muslim]

Buku yang ditulis Renata Bepthlli berjudul “Islamic Hijab”dalam bahasa Italia itu menginvestigasi masalah hijab dalam masyarakat Arab dan Barat dari perspektif agama dan sejarah. Sang penulis berpendapat bahwa hijab Islam merefleksikan pencarian kaum Muslim terhadap peradaban Islam yang dirinya untuk meneliti dalam peradaban dan budaya Barat. Menurutnya, pemakaian jilbab ini membuktikan bahwa kaum Muslimah menentang identitas penjajah dan penekanan terhadap identitas agama mereka. Bepthlli menegaskan bahwa tidak ada hal yang menimbulkan kekhawatiran di negara-negara Barat lebih dahsyat dari perluasan hijab. (IRIB Indonesia/MZ)

Dikembalikan lagi pada kenyamanan model hijab yang digunakan muslimah dalam beraktivitas dihari-harinya tanpa menjadi suatu daya tarik yang mutlak atau disisi lain bahkan menghadirkan suatu kreativitas model tebaru yang benar dan sesuai. Tetap memperbaiki diri lebih baik dari pada menilai orang lain. ‘Daya tarik’ untuk mempercantik dirimu dengan akhlak dan menutup auratmu maka Allah akan mencintaimu.

~Saatnya kita bangga menjadi seorang muslimah.

by:@rikapuri1990

 

  • Writing Competition ini merupakan salah satu rangkaian acara dari Indonesia Muslimah Fest bekerjasama dengan FLP Bandung. Ikuti lomba & Audisi lainnya seperti Lomba Menyanyi, Model Muslimah, Rancang Hijab dengan Hadiah Utama Tour Eropa, Asia dan Umroh juga Hadiah Ratusan Juta lainnya. Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui:web : www.festivalmuslimah.comTwitter : @MuslimahFest Fb : www.facebook.com/FestivalMuslimah

 

SEX EDUCATION??

SEX EDUCATION??…WHY NOT.

Dewasa ini kalangan anak ketika mendengar kata “sex atau seks” sudah dianggap hal yang biasa, namun jika ditanyakan ”apa itu seks?” hal hasil mereka hanya dapat menggambarkan pada hal-hal yang bersifat negatif dan cenderung berbau jorok. Disisi lain fenomena tersebut tidak salah, hanya saja dibutuhkan suatu pendidikan dini mengenai seks (sex education) untuk mencegah terjadinya fenomena negatif yang timbul.

Umumnya pengetahuan seorang anak yang beranjak dewasa tak lepas dari pengaruh lingkungan luar. Mengapa demikian, karena umumnya seorang anak lebih ingin banyak bereksplorasi, mencari identitas baru dan menuangkan segala pikiran akan rasa penasarannya di lingkungan luar. Sehingga diperlukan media “control agents atau agen pengendali” yang sesuai. Agen pengendali disini yaitu orang-orang yang menjadi media pengantar dengan nilai-nilai positif sebagai pengendali dari informasi anak di lingkungan luar. Lingkungan keluarga menjadi peran utama sebagai agen pengendali. Namun didasarkan dengan intensitas keberadaan dan tingkat eksplorasi yang dimiliki pada anak, terdapat intensitas interaksi yang tinggi antara anak dengan lingkungan luar, Peran seorang pendidik diharapkan memiliki kemampuan yang tepat dan benar dalam menyampaikan hal-hal yang diajarkannya, bila tidak maka yang terjadi adalah anak akan kurang faham dan lahirlah penafsiran makna ganda dalam pikiran. Pola-pola penyampaian yang dapat ditekankankan adalah 1) Pola dasar pemikiran yang dilandasi oleh ajaran tuhan akan bersifat kakal dan selalu nyata. 2) Pola pandangan anak mengenai pergaulan bebas 3) Pola arah “Question Mind “ yang melahirkan jawaban akan hal-hal penting yang harus dihindari. 4) Pola “Warning” dengan selalu mengingatkan dampak sebab-akibat dengan fenomena yang muncul dilingkungan akibat pergaulan bebas. Sebagai contoh, penekanan terhadap seks yaitu dampak sebab-akibat adanya hubungan intim antara alat kelamain pria dan wanita. Umumnya dan sudah menjadi fakta penyakit besar yang ditimbulkannya seperti sifilis, klamidia, HIV/AIDS, dll, akan menyebabkanpenderitaan seumur hidup hingga kematian yang mengenaskan. Penyakit tersebut dapat berkembang akibat hubungan seksual yang tidak sehat dan tingkat umur yang belum dewasa menyebabkan rentang terhadap jenis penyakit kelamin tersebut.

Saat seseorang mencari identitas yang berbeda dari mereka dan banyak dari mereka terjebak dalam arus coba-coba. Kegagalan dalam definisi diri membuat anak mengalami kebingungan peran (role confusion) saat mencari model peran yang akan diiikuti. Semua itu membawa anak pada kondisi yang sangat labil, rentan, dan mudah terpengaruh oleh lingkungannya.

Pada suatu kasus: “Anak Nonton Video Porno Kemudian Ditiru dan Direkam (www.tribunnews.com) – Sabtu, 22 September 2012).

Situasi ini menjadi semakin memburuk, karena kaum kapitalis khususnya para pengusaha menjadikannya sebagai “permintaan” (supply) berupa media yang menampilkan identitas semu (pseudo-identity) untuk peluang bisnis dan keuntungan. Apresiasi hal-hal baru yang menarik bagi mereka untuk meniru dan mengikuti model-model identitas ini yang tidak menyelesaikan problem dan gejolak pada diri mereka, malah semakin melipat gandakannya.

Hingga pada suatu kasus  “Anak Kelas 3 SD Seks Sudah Menjadi Bagiannya” (www.jawaban.com).

Kelabilan serta gejolak masa anak yang berlebihan adalah realitas masyarakat modern yang merupakan dampak dari globalisasi dan perubahan budaya. Maka peran agen pengendali sangatlah tepat jika diterapkan di lingkungan sekolah.  Sex education dapat diterapkan saat respon terhadap lingkungannya mulai mendukung dirinya untuk beradaptasi.

Selamat mengabdi, didiklah anak Indonesia untuk kemajuan bangsa dimasa yang akan datang.

essai sex education

                                Photo description of the story~

by:@rikapuri1990

  • Writing Competition ini merupakan salah satu rangkaian acara dari http://beasiswadataprint.com dan www.dataprint.co.id

Hello world!

Welcome to WordPress.com.hopefully with the existence of my blog, can make u feels happy cause u will better know me,
Hakuna Matata 😉